AFTA 2015

AFTA 2015

            AFTA atau Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN (ASEAN Free Trade Area) adalah perjanjian yang dibuat oleh Persatuan Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) untuk meningkatkan daya saing ASEAN dibidang jasa ataupun barang. Dengan penghapusan tarif dan kuota diharapkan persaingan sehat antara ASEAN dapat terjadi. AFTA (Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN) telah dilakukan sejak KTT V ASEAN pada 14-15 Desember 1995 di Bangkok. Dan baru akan dilaksanakan oleh negara ASEAN baru (Kamboja, Laos, Myanmar dan Vietnam) pada tahun 2015 yang sebelumnya 2018. Sedangkan negara ASEAN (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand) pada tahun 2015 menjadi 2010. Keputusan percepatan tahun untuk penghapusan bea masuk seluruh produk yang diperdagangkan disepakati pada KTT Informal ASEAN ke-3 pada 28 November 1999 di Manila.
            AFTA untuk Indonesia yang kurang memiliki SDM ( Sumber Daya Manusia ) dan kemampuan wirausaha yang baik sangat dikhawatirkan. Persaingan ASEAN sangatlah berat bagi negara yang memiliki kualitas SDM yang rendah. AFTA juga dikhawatirkan untuk stabilitas ekonomi daerah di Indonesia dikarenakan barang yang ditawarkan oleh daerah kurang bersaing dengan negara lainnya. Indonesia haruslah bersiap diri untuk menghadapi kebebasan dalam pasar dunia ini. Seperti mempersiapkan SDM yang handal dan berkualitas. Karena jika tidak, banyak sektor pekerjaan yang akan diisi oleh pekerja asing dikarenakan SDM Indonesia tidaklah memiliki daya saing dengan negara lain. Maka dari itu Indonesia haruslah mempersiapkan para anak-anak bangsa yang memiliki SDM yang berkualiatas dan bisa bersaing dengan negara asing.
            Di Indonesia memiliki empat jurusan favorit dalam dunia perkuliahan seperti bisnis manajemen, arsitektur, kedokteran dan informasi teknologi. Empat jurusan tersebut memiliki lulusan yang sangat banyak. Dan jika sektor lain yang hanya memiliki lulusan yang sedikit, maka dari itu sektor pekerjaan akan banyak diisi oleh pekerja asing dikarenakan di Indonesia kekurangan SDM yang sesuai dengan pekerjaan tersebut. Sementara itu, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Radjasa dalam Kuliah Umum di Institute Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, pada pertengahan Mei 2013 lalu mengatakan pada saat AFTA, kebutuhan tenaga insinyur (engineer) di Indonesia mencapai 90.500 orang, sementara ketersediaan sarjana teknik dari perguruan tinggi pertahun hanya berkisar 75.000 orang. Sehingga masih ada kekurangan 15.500 orang. Bisa dibayangkan jika keadaan seperti itu tetap terjadi, 15.500 engineer di Indonesia adalah pekerja asing.
            Dalam perdagangan bebas yang mulai dilakukan pada tahun 2015, indonesia harus mempersiapkan para SDM yang bersaing dalam hal kualitas bukan kuantitas saja. Di Indonesia hanya ada beberapa anak bangsa yang melanjutkan ke perguruan tinggi, dan sangatlah banyak yang tidak memiliki pendidikan yang tinggi. Lalu harus dikemanakan anak bangsa yang tidak bisa bersaing dalam dunia pekerjaan. Maka dari itu Indonesia harus  mengurangi kekurangan yang dipunya dengan cara mempersiapkan para pengusaha yang siap bersaing di dunia internasional. Dengan banyaknya para pengusaha yang dapat membuat produk yang dapat bersaing di dunia internasional maka kestabilan ekonomi Indonesia tidak perlu dikhawatirkan. Tapi kenyataannya di Indonesia tidak seperti itu, masih banyak para pengusaha yang belum pantas untuk dihadapkan dengan perdagangan bebas, karena kualitas produksi mereka rendah. Mungkin hanya beberapa saja yang pantas. Peran pemerintah dalam hal ini sangat dibutuhkan, dengan cara peminjaman kepada usaha kecil menengah untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas barang yang diproduksi oleh para UKM.
            Siapkah Indonesia menghadapi AFTA 2015 dengan kondisi saat ini? Dengan impor yang lebih tinggi daripada ekspor. Apakah Indonesia hanya akan jadi penonton dari perdagangan bebas yang sebenarnya dapat meningkatkan pendapatan Nasional? Yang bisa dilakukan adalah planning untuk 2015, dengan meningkatkan produk yang diproduksi dengan efisien agar produk memiliki harga yang murah dan tetap berkualitas, dan SDM yang berkualitas dan mampu dalam mengembangkan teknologi untuk menciptakan efisiensi produksi dll.
            Menghadapi AFTA ini Indonesia belum sama sekali mempersiapkan diri. Bayangkan apa yang akan terjadi pada Indonesia pada saat 2015 nanti. Sedangkan Thailand sudah mempersiapkan dengan sekolah khusus bahasa Indonesia dikarenakan negara ASEAN menganggap bahwa Indonesia adalah negara empuk untuk dijadikan pasar. Saya tebak dikarenakan Indonesia termasuk negara yang memiliki masyarakat konsumtif.

            Untuk para mahasiswa dan penerus bangsa apakah kita akan diam saja menunggu 2015? Sudah saatnya kita melakukan sesuatu untuk negara Indonesia yang kita cintai ini.        

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan Hidup Selanjutnya

Praktek Kerja Lapangan di Perumnas Pusat

Tempat Paling Indah